LAST PIGET
(PENYESALAN TERAKHIR)
Sepi,itulah ungkapan setiap orang yang melewati gerbang Westwood highschool , sekolah swasta terkenal dan bergengsi di Malibu. Para siswa sama sekali belum menyentuh pagar tua sekolah yang dilampisi cat minyak bewarna hijau itu. Jam masih menunjukan enam lewat seperempat. 15 menit kemudian, Rebecca Bloomwood dengan mobil mercy-nya, berhenti tepat didepan gerbang tua itu, dan Rebecca pun memasuki sekolah dengan Ibunya tercinta.
Rebecca Bloomwood, gadis berkulit putih,yang baru saja merayakan ulang tahunnya yang ke-16, sekaligus putri dari Kepala Sekolah, Poppy Bloomwood adalah gadis yang betubuh ramping,bermata coklat,berambut pirang,fashionable,dan lumayan pintar. Tetapi, dia memiliki satu sifat yang sulit diubah, yaitu senang berbelanja untuk hal-hal yang tidak terlalu penting. Sampai saat ini, sifat itu masih melekat pada diri Rebecca.
Setiap hari, uang 1,000 $ ia keluarkan untuk pergi ke mall membeli apa yang dia sukai, seperti baju, sepatu, accecoris, dan apapun yang dia mau, maklum saja Ibunya adalah Kepala Sekolah.
“Rebecca, Ibu dapat laporan bahwa kartu kreditmu sudah terblokir”,
“Hmm, itu dia masalahnya bu, kartu kreditku tertinggal saat aku makan di Cafe Apprilo ”, jawab Rebecca polos.
“Benar ?”,
“Hmm, i i i iyaa buu .. beneraan, tapi udah ketemu lagi kok..” jawab Rebecca gugup.
“Yasudah, Ibu ada pertemuan dengan Kepala Sekolah SMA di California, mungkin Ibu pulang 5 hari lagi, baik – baik dirumah sayang ”, Jawab Ibu Poppy sambil mengecup kening Rebecca.
“Trus gimana kartu kreditku ?”, senyum lebar Rebecca terpancar.
“Sudah Ibu urus ”, sahut Ibu Rebecca dan pergi.
Rebecca memang senang berbelanja, apalagi dengan discount. Terkadang, kebiasaannya ini tidak terkendalikan lagi. Pada saat memasuki tempat belanja (mall), dia seperti kesetanan, lari kesana kemari, membeli pernak-pernik. Padahal, koleksi pernak-perniknya sudah bertumpuk dikamarnya.
Rebecca sejak kecil memang tidak mengenal sosok ayah, ayahnya meninggal karena penyakit jantung yang dideritanya beberapa hari setelah Rebecca lahir, dan selama kurang lebih 16 tahun Nyonya Poppy Bloomwood menjadi single parent’s.
Setelah Ibunya pergi, Rebecca langsung memasuki kamarnya yang tersusun rapi,dipenuhi pernak pernik cantik yang berwarna pink, dan Rebecca menghempaskan tubuhnya kekasur dan membuka laptopnya yang juga bewarna pink dan sibuk seperti biasanya.
***
Hari ini mungkin hari yang paling bersejarah bagi Rebecca, mengapa tidak, hari ini ada doscount besar-besaran di mall Allote, dengan tergesa-gesa ia menemui Molly untuk pergi ke mall tersebut, dan seperti biasa Molly menyetujui ajakan tersebut
Molly, gadis yang memiliki paras cantik dan berambut sebahu ini adalah anak guru Kimia di Westwood highschool, tempat ia dan Rebecca bersekolah. Kehidupannya tidak seperti Rebecca yang bisa beli apa saja,untuk membeli laptop saja, perlu pertimbangan yang cukup lama. Sedangkan Rebecca gonta ganti laptop itu merupakan hal yang sudah biasa.
Sesampainya mereka di mall Allote, antrian panjang sudah tampak dari kejauhan, Rebecca pun langsung berlari mendekati barisan antrian yang panjang itu. 20 menit kemudian pintu mall dibuka, dengan sekuat tenaga Rebecca dan puluhan orang lainnya berlarian untuk membeli barang-barang yang tersedia disana. Pada saat seperti ini, Rebecca takkan terkendali, apa yang dilihatnya yang ia rasa menarik langsung ditarik, dan rela berebutan dengan siapa saja.
“Rebecca, lihat, udah berapa ribu sepatu yang kamu punyaa? Masak dibeli lagi ?”, omel Molly.
“Molly, sepatu ini bagus banget, aku belum punya yang ini..”, jawab Rebecca dengan santainya.
“Tapi, sepatu ni mahal banget, 150 $ loh..”, jengkel Molly.
“Haha, ini tu udah discount lo, biasanya 250 $ ..” ledek Rebecca.
Saat melihat daftar belanjanya, Rebecca pun terperanjak melihat total belanjanya, yang berjumlah 986 $, ia pun cemas, jika Ibunya menanyakan hal ini.
“Kenapa Rebecca, ada belanjaan ketinggalan?”, ucap Molly
Rebecca tersadar, dan menjawab
“Hmm, enggak kok..”, lalu Rebecca merapikan barang-barang yang baru dibelinya.
***
Westwood highschool spagi itu gempar, mengapa tidak, Nyonya Poppy Bloomwood selaku Kepala Sekolah Westwood high school menutup usia, akibat kecelakaan lalu lintas yang dialaminya saat perjalanan menuju Malibu. Mobil yang dikendarainya ditabrak mobil truk yang membawa kayu-kayu bangunan, posisi mobil Nyonya Poppy terbalik dan beliau meninggal di tempat. Sentak semua siswa menggeromboli Rebecca, yang tidak menyangka Ibunya pergi secepat ini, suara teriakan dan tangisan Rebecca-lah yang terdengar saat itu.
Sesampainya dirumah, Molly yang mengandeng Rebecca mengajak Rebecca menuju kamarnya unutk menenangkan diri. Rebecca pun terduduk dan merebahkan dirinya yang bercucuran keringat ke kasurnya yang empuk itu, menoleh ke dinding yang memampangkan fotonya bersama Ibunya di pantai Malibu. Ibunya tersenyum manis disana, dan Rebecca menoleh ke lemari-lemari baju, accecori, sepatu miliknya. Rasa sesalnya pun timbul. Rebecca teringat nasehat-nasehat Ibunya tentang kebiasaannya yang buruk itu.
Saat peti, yang berisi jenazah Ibunya memasuki ruang tamu, rumah Nyonya Poppy Bloomwood sentak dipenuhi orang-orang, dan karangan-karangan bunga. Rebecca pun terdiam, teringat masa-masa indah yang dilewatinya bersama orang tua satu-satunya yang ia miliki di sepanjang hidupnya, dan yang membuat dia lebih terperangah adalah saat dia tau bahwa ia akan tinggal bersama Bibi Murse yang terkenal pelit. Disinilah mimpi buruk Rebecca dimulai.
***
Barang-barang milik Bibi Murse, Paman Han, dan saudara Rebecca, Betty pun datang, mereka pun sibuk merapikan barang-barang mereka yang berantakan. Rebecca pun mencurahkan perasaannya melalui status-statusnya di jejaringan sosial facebook dan twitter. Rebecca merasa hidupnya hampa, karena ia terbiasa melakukan sesuatu dengan Ibunya tercinta. Suara Bibi Murse mengagetkan Rebecca yang tangannya sedang meraba keyboard laptopnya.
“Rebecca, waktunya makan siang ..”
“Iyaa bii ..”, sahut Rebecca sambil menuruni jenjang menuju ruang makan.
Pada saat makan, Bibi Murse memulai pembicaraan
“Rebecca, kebiasaanmu itu harus diubah, kau tau kan Ibumu sudah melarangmu berbelanja banyak?”
“Hmm, tapi bi, itu seperlunya kok bi..” jawab Rebecca polos
“Apakah high heels ini juga perlu ?”
Rebecca pun terdiam, dan menyantap cepat makanannya dan memasuki kamar, lalu menguncinya, meraih BB nya dan menghubungi Molly, awalnya Rebecca bermaksud mencurahkan isi hatinya, namun Molly menyetujui sikap Bibi Murse dan menganggap kebiasaan Rebecca itu harus dihapuskan. Kesal dengan tanggapan teman baiknya, Rebecca langsung memutuskan panggilan dan membanting BB ke kasurnya dan terdiam sejenak.
“Aku harus bisa mengendalikan sifatku yang senang berbelanja, aku pasti bisa”, gumamnya
***
Rebecca sampai disekolah, rasa berkabung masih terasa di Westwood highschool. Saat melangkahkan kaki didepan kelas, Jennifer tampak berlari mendekati Rebecca . “Rebecca, jangan sedih lagi ya, kami semua ada buat kamu kok ”, ujar Jennifer
“Iyaa, makasih ya buat kalian semua,”
Bel panjang pun berbunyi, pertanda bahwa proses belajar dimulai. Terdengar suara detakan sepatu Nyonya Pearl memasuki kelas. Nyonya Pearl mulai mengembangkan peta, dan mulai bercerita mengenai peradaban- peradaban kuno di dunia. Semua orang sibuk, tapi Rebecca tampak merenung. Suara tapak sepatu Nyonya Pearl mengagetkan Rebecca..
“Rebecca, dari awal pelajaran tadi kamu tampak tidak serius, apa ada masalah ?”, sahut Nyonya Pearl.
“Ng.. gak kok buk, gak ada masalah, semua aman kok buk”
“Kamu jangan bohong, kalau ada masalah, kamu boleh cerita sama saya”,
“Hmm, semuanya baik-baik saja”
Setelah melewati 6 jam disekolah, lonceng berbunyi, siswa-siswa sentak bergegas merapikan buku-buku ke dalam tasnya,dan perlahan Westwood highschool mulai sepi, begitupun Rebecca, saat memasuki buku-bukunya, terselip selebaran yang berisikan ada discount besar-besaran di mall Pinloss, dan ia langsung tersenyum, bergegas, berlari menuju antrian panjang didepan pintu mall Pinloss, dan masih berseragam sekolah.
Setelah puas berbelanja, Rebecca pun menaiki taxi, saat perjalanan menuju rumahnya, Rebecca melihat-lihat belanjaannya, alangkah terkejutnya Rebecca saat melihat baju-baju yang dibelinya tidak asli, bahannya 95% cotton dan 5% wool . Rebecca pun menyesal, ia sekarang merasakan efek dari kebiasaannya, dia pun memukul kecil kepalanya, tanda rasa sesalnya.
Sesampai dirumah, Rebecca yang baru turun dari taxi,dengan belanjaan-belanjaannya dikagetkan dengan kehadiran Bibi Murse telah menantinya didepan pintu dengan tampang yang aneh.
“Belanja lagi, sudah berapa kali Bibi bilang,”, tegur Bibi Murse sambil mendekati Rebecca
“Hmm, a ”
“Mau berbohong apa lagi ?” potong Bibi Murse
Bibi Murse langsung mengambil belanjaan Rebecca, menyita kartu-kartu kredit Rebecca dan Rebecca mendapat pengawasan ketat dari Bibi Murse. Rebecca tidak dapat mengelak, dia tau kesalahannya, dan Rebecca menyesal untuk kesekian kalinya.
***
Mentari mulai menampakan dirinya, dan pancaran sinarnya menembus ventilasi-ventilasi kamar Rebecca. Silau cahaya mentari membangunkan Rebecca dari tidurnya, sembari mengusap-usap matanya, Rebecca menoleh BB yang terletak di sampingnya, dia langsung tersentak, bangun dan berlari menuju kamar mandi, berhias, dan tampak tergesa-gesa. Karena ada barang-barang baru di mall Allote.
“Mau kemana Rebecca ?”, suara Bibi Murse menghentikan langkah Rebecca.
“Hari ini ada kursus biola”, bohong Rebecca.
“Bukankah kursus biola setiap hari Jum’at ?”
“Ng, ng, ng, itu jadwalnya ditukar bi”
“Jangan bohong, sekarang kamu mau bibi ajak kerumah teman bibi”
Sentak Rebecca terperangah, dan ia tak dapat menolak.
***
Sesampainya dirumah teman Bibi Murse, yang bernama Nyonya Brianna, mereka dipersilahkan masuk, mereka juga dihidangkan makanan dan minuman. Bibi Murse pun menyampaikan tujuannya membawa Rebecca ke rumah Nyonya Brianna, ternyata Nyonya Brianna dulu juga memliki kebiasaan seperti Rebecca, ia terdiam sejenak dan Rebecca tersentak saat Nyonya Brianna mempersilahkan Rebecca untuk memulai pengalamannya.
“Aku Rebecca, 16 th, aku berasal dari keluarga yang mampu, tapi semenjak Ibuku meninggal, pemasukan uangku berkurang, karena Bibi ku hanya penjual kue, dan aku tidak mempunyai Ayah lagi. Dari kecil hidupku serba berkecukupan, tapi aku tidak bisa mengendalikan diriku bila melihat barang-barang antik,cantik, dan menarik.”, ungkap Rebecca.
“Cobalah menahan dirimu saat melihat barang-barang itu, anggap saja itu sebuah ujian yang harus kamu siapkan”, ujar Nyonya Brianna dan Rebecca mengangguk.
Setelah beberapa jam dirumah Nyonya Brianna, Bibi Murse dan Rebecca pun keluar dan pergi dari rumah Nyonya Brianna, saat mengendarai mobil, Bibi Murse bercakap-cakap dengan Rebecca.
“Rebecca, ada yang mau Bibi ceritakan padamu,” Bibi Murse memulai pembicaraan.
“Menanyakan apa Bi?”, jawab Rebecca sambil mengerutkan keningnya.
Bibi pun berhenti dari makannya dan mulai bercerita...
“Bibi sudah kewalahan menutupi tagihan kartu-kartu kreditmu, sekarang Bibi mohon, tolong ubah kebiasaanmu itu”
“Mengapa Bibi tidak pernah menceritakannya padaku ?”, potong Rebecca.
“Karena Bibi kira sikapmu dapat berubah, ternyata sebaliknya.”
Air mata Rebecca pun jatuh,sebagai tanda rasa penyesalan dirinya. Rebecca sadar bahwa ia adalah anak yang bodoh,sombong,dan menyusahkan orang lain. Pikirannya yang berkecamuk itu membuat air matanya semakin deras. Mulai saat itu ia bertekad, bahwa suatu saat ia harus menjadi seperti Ibunya.
“Kamu jangan menangis, menangis bukan hal yang bisa mengubah segalanya”, ujar Bibi Murse memberi semangat pada Rebecca.
“Aku menyesal bi, atas tindakanku selama ini, ma’afkan aku ya bi, selalu menyusahkan bibi,”, isak Rebecca sambil menghapus air matanya.
Bibi Murse pun tersenyum dan memberi semangat lagi pada Rebecca.
“THIS IS THE LAST PIGET”, mereka pun tertawa.
Sesampainya dirumah, Rebecca langsung meraih telfon rumahnya dan segera menelpon temannya Molly.
“Halo, Molly disini, mau bicara dengan siapa?”
“Molly, ini aku Rebecca, aku mau minta ma’af, ternyata tindakan Bibi Murse memang benar, aku ingin berubah, menjadi orang yang tidak menyusahkan orang lain ..”
“Sungguh? Aku bangga dengan perubahanmu, semoga ini penyesalan terakhir”
“THE LAST PIGET”,Rebecca tersenyum puas, sembari menutup pembicaraan dengan Molly.
***
Rebecca benar-benar berubah 180 derajat, sekarang Rebecca berubah menjadi sosok yang penuh dengan kesederhanaan. Setiap pulang sekolah ia membantu Bibinya, memasak kue-kue. Sekarang Rebecca mendapatkan keahlian dalam membuat kue.
Tahun berganti tahun, dan sekarang Rebecca menjadi orang sukses dengan Cafe Hal’s Diner yang dimilikinya, dengan cabang diseluruh dunia. Cafe Hal’s Diner terkenal dengan menu khasnya “the last piget cake”, yang berarti kue penyesalan terakhir. Sekarang Rebecca telah menikah dengan George dan memiliki 2 orang anak, Joe dan Burne, keluarga yang bahagia, dan Molly menjadi direktur Cafe Hal’s Diner cabang Australia, dia baru saja menikah dengan Rich
Tidak ada komentar:
Posting Komentar